"Pada hari Jumaat, 28 September 2007 bersamaan 17 Ramadhan 1428
H,Indonesia menerima kunjugan seorang pejuang Palestine yang istimewa.
Syeikh Abu Bakar pernah ditangkap sebanyak 5 kali oleh tentera Zionis
sehingga mengakibatkan beliau buta. Beliau yang datang sebagai memenuhi
jemputan Eramuslim (http://www.eramuslim.com/) dalam Majlis Iftar Jama’iy
itu mengenakan pakaian gamis putih dan turut memberikan ucapan kepada
hadirin.

Bismillahirahmanirahiim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saya mencintai kamu semua karena Allah, mengapa saya mencintai kalian
karena Allah? Karena kalian hamba-hamba-Nya, yang berpuasa, yang
mendirikan solat lima waktu, yang memberi sedeqah, mengeluarkan zakat,
serta beramal hanya kerana Allah, ikhlas. Dan jangan lupa, “Sesungguhnya
kemenangan kaum Muslimin itu semata-mata hanya kerana ketaatan kita kepada
Allah SWT. Jika kita jauh dari Allah dan tidak taat kepada Allah, maka
kemenangan akan menjauhi kita. “Saya teringat suatu pesan dari Umar ibn
Khattab kepada Saad Abi Waqqash yang mengatakan bahawa nasab kita hanya
dihitung jika kita taat kepada Allah. Sesungguhnya, kita dengan
musuh-musuh kita adalah sama. Yang membezakannya hanyalah mereka
bermaksiat dan tidak beriman kepada Allah, sedangkan kita—mengapa kita
perlu menang atas kaum kafir dan musuh-musuh Allah, semata-mata kerana
kita beriman dan taat kepada Allah. Jika kita melakukan kemaksiatan
seperti yang mereka lakukan, maka kita akan kalah dan terhina di hadapan
kaum kuffar. “Sesungguhnya kemenangan itu tidak akan datang kecuali atas
izin pemiliknya, iaitu Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Pemberi.”

Saya di sini berbicara kepada anda semua atas nama bangsa Muslim Palestine
yang dijajah oleh Zionis-Israel, saya juga berbicara di hadapan kalian ini
atas nama pejuang-pejuang Palestine, iaitu HAMAS, saya juga berbicara di
hadapan kalian atas nama seluruh ulama-ulama Palestine yang diusir dari
negaranya, saya akan memberikan beberapa maklumat terkini tentang apa yang
terjadi terhadap kaum Muslimin Palestine:

Pertama, sekarang terdapat lebih dari 7000 keluarga syuhada yang
ditinggalkan oleh suaminya atau anaknya atau keluarganya yang syahid,
iaitu dari intifada pertama hingga intifada kedua.

Yang kedua, sekarang terdapat lebih dari 50,000 kaum Muslimin Palestine
yang terluka dan cacat akibat penangkapan dan penyiksaan yang dilakukan
kaum Zionis-Israel. Saya juga ingin menyatakan kepada kalian semua kaum
Muslimin, sekarang terdapat lebih dari 12,000 orang tawanan yang masih
berada di penjara-penjara Israel. Mereka mengalami berbagai penyiksaan
bahkan banyak yang sampai menemui syahid atau cacat seperti saya.

Saya juga ingin menyatakan bahawa ada lebih dari 10,000 rumah kaum
Muslimin Palestine itu dihancurkan oleh tentara Zionis Israel dan sekarang
ini kami dipisahkan dengan adanya pembangunan tembok-tembok pemisah yang
sangat kukuh dan tingginya sampai 10 meter. Sehingga sekarang ini kami
dipisahkan dari rumah-rumah kami, kami dipisahkan dari hospital kami, kami
dipisahkan dari universiti-universiti kami, dari jiran-jiran kami sehingga
kaum perempuan kami pun untuk melahirkan anak di hospital pun tidak boleh.
Ramai wanita-wanita kami terpaksa melahirkan anak di pinggir-pinggir jalan
sahaja atau pun di perbatasan-perbatasan yang sengaja dibuat oleh
tentara-tentara Zionis-Israel.

Sekarang ini terdapat 500,000 kaum Muslimin Palestine yang tidak boleh
bekerja kerana cacat dan lumpuh seumur hidup disebabkan penyiksaan yang
dilakukan oleh tentera Zionis ke atas kami. Dahulu kami, sekitar 500,000
Muslim Palestine boleh menunaikan solat berjamaah di Masjidil Aqsa, tetapi
sekarang kami hanya boleh melakukan solat di Masjidil Aqsa sekitar 50,000
orang sahaja itu pun dengan satu syarat iaitu mestilah berusia 50 tahun ke
atas.

Dan perlu diketahui juga bahawa sekarang ini Al-Aqsa sedang berteriak
memanggil umat Islam yang berada di seluruh dunia kerana sekarang ini
Al-Aqsa tinggal masa menunggu keruntuhannya. Di bawah Al-Aqsa,
Zionis-Israel telah melakukan penggalian di sana-sini, kononnya untuk di
buat parit-parit dan sebagainya, yang akhirnya jika Al-Aqsa akan runtuh
dan di atasnya akan dibangunkan kembali Haikal Sulaiman.

Wahai Saudaraku, selamatkanlah Al-Aqsa, kerana Al-Aqsa ini akan segera
runtuh jika kaum Muslimin tidak segera membantunya. Saya juga akan
menyampaikan khabar tentang pejuang-pejuang kaum Muslimin Palestine,
terutama HAMAS:

Pertama, kami sesungguhnya telah berjaya di dalam pilihanraya umum, HAMAS
berjaya memenangi kerusi parlimen dengan memperolehi 60% dan kami juga
berjaya mengusir keluar tentera Zionis-Israel dari Semenanjung Gaza yang
panjangnya 350 kilometer, sehingga kini tentara Zionis-Israel tidak mampu
lagi untuk masuk ke Semenanjung Gaza walau hanya sejengkal pun. Allahu
Akbar!

Kedua, Dan kami juga ingin menyampaikan berita bahawa kami telah kembali
membangunkan hospital-hospital, universiti-universiti Islam di Gaza, dan
kami juga berjaya dengan dakwah dan tarbiyah kami sehingga kami dapat
menciptakan generasi-generasi Islam yang dekat dengan Al-Qur’an dan As
sunnah Rasulullah SAW.

Saya sendiri kuatir, bukan kuatir dengan pejuang-pejuang, para mujahidin
Palestine, tetapi saya kuatir dengan diri saya dan kalian semua yang ada
di Indonesia yang sekarang masih menunggu di jalan jihad. Kita sedang
menunggu untuk sampai tiba di sana, tetapi mereka telah ada di sana dan
menunggu untuk boleh mendapat syahid atau hidup mulia. Jika kita semua
ingin tiba di sana, berdoalah kepada Allah dan tetaplah istiqamah sehingga
nantinya kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah untuk membebaskan
al-Aqsa dan kita boleh melaksanakan solat berjamaah di sana dengan aman.
Mungkin ini saja dari saya,

Wa bilahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Note: sumber : http://www.eramuslim.com

oleh : DR. Yusuf Al Qardhawi

Banyak orang bertanya-tanya setelah pemboman terakhir yang terjadi di kota Al Quds, Tel Aviv dan Asqalan. Di mana orang-orang Yahudi terbunuh didalamnya karena operasi syahadah yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda HAMAS� Mereka bertanya tentang hukum operasi ini yang mereka namakan sebagai “Bom Bunuh Diri”. Apakah ini termasuk jihad fisabilillah, atau salah satu bentuk teroris? Apakah para pemuda yang mengorbankan dirinya itu termasuk para syahid atau disebut orang yang bunuh diri, karena mereka membunuh dirinya sendiri dengan ulah sendiri pula? Apakah perbuatan mereka itu termasuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang telah dilarang oleh Al Qur’an dalam sebuah ayatnya yang artinya:”Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Saya ingin katakan di sini bahwa operasi-operasi ini adalah termasuk cara yang paling jitu dalam jihad fisabilillah. Dan ia termasuk bentuk teror yang diisyaratkan dalam Al Qur’an dalam sebuah firman Allah Ta’ala yang artinya:”Dan persiapkanlah kekuatan apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang akan bisa membuat takut musuh-musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al Anfal: 60).

Penamaan operasi ini dengan nama “bunuh diri” adalah sangat keliru dan menyesatkan. Ia adalah operasi tumbal heroik yang bernuansa agamis, ia sangat jauh bila dikatakan sebagai usaha bunuh diri. Juga orang yang melakukannya sangat jauh bila dikatakan sebagai pelaku bunuh diri.

Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT.

Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah.

Para pemuda pembela tanah airnya, bumi Islam, pembela agama, kemuliaan dan umatnya, mereka itu bukanlah orang-orang yang bunuh diri. Mereka sangat jauh dari bunuh diri, mereka benar-benar orang syahid. Karena mereka persembahkan nyawanya dengan kerelaan hati di jalan Allah; selama niatnya ikhlas hanya kepada Allah saja; dan selama mereka terpaksa melakukan cara ini untuk menggetarkan musuh Allah Ta’ala, yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya dan bangga dengan kekuatannya yang didukung oleh kekuatan besar lainnya. Urusannya sama seperti apa yang dikatakan oleh penyair masa lampau yang mengatakan:

Jika tidak ada tunggangan selain mata tombak

Maka tidak ada jalan bagi yang terpaksa selain ditumpainya juga

Mereka bukan orang-orang yang bunuh diri, bukan pula teroris, namun mereka melawan, perlawanan yang sah, melawan orang yang menduduki buminya. Mereka yang telah mengusirnya dan keluarganya, merampas hak-haknya dan menyita masa depannya. Musuh itu masih terus melakukan permusuhannya kepada mereka, sementara agama mereka memerintahkan untuk membela dirinya, dan melarangnya untuk mundur dari buminya, yang itu termasuk bumi Islam.

Juga aktivitas para pahlawan itu bukan tergolong menjerumuskan diri ke dalam kehancuran, seperti apa yang dipandang oleh sebagian orang awam. Bahkan perbuatan mereka itu termasuk perbuatan yang terpuji dalam jihad, dan sah menurut syari’at Islam. Dimaksudkan untuk bisa mengalahkan musuh, membunuh anggota musuh, menancapkan rasa takut kepada mereka dan mendorong kaum muslimin untuk berani menghadapi musuh-musuhnya.

Masyarakat Zionis adalah masyarakat militer, kaum lelaki dan wanitanya adalah prajurit dalam angkatan bersenjata, yang kapan saja bisa dipanggil segera. Jika seorang anak atau orang tua terbunuh dalam operasi ini, ia tidak bermaksud membunuhnya, namun masuk dalam kategori darurat perang. Dan segala yang darurat itu bisa membolehkan yang terlarang. Berikut ini akan saya sampaikan pendapat para ahli fiqh dalam masalah ini dan pendapat para mufasir mengenai firman Allah Ta’ala yang artinya:”Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu ke jurang kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

PENDAPAT IMAM AL JASSHASH, DARI MADZHAB HANAFI

Imam Al Jasshash, dari madzhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkam Al Qur’an menyatakan bahwa tafsiran ayat 195 dalam surat Al Baqarah itu ada beberapa pandangan:

Pertama: apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berkata: diceritakan dari Ahmad bin ‘Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari Ibn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai’ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada Abdurrahman bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-punggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musuh, “tunggu, tunggu�.! Laa Ilaaha Illallah! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!” kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:”Ayat ini tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika Allah SWT memberikan pertolongan kepada Nabi-Nya dan memenangkan agama Islam, lalu kami berkata:”Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Lalu turunlah ayat yang artinya:”Dan belanjakanlah pada jalan Allah, dan jangan menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195). Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad.”

Abu Imran berkata:”Abu Ayyub masih saja berjihad di jalan Allah hingga dimakamkan di Kostantinopel.” [i] Abu Ayyub menceritakan bahwa menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu adalah meninggalkan jihad fisabilillah, dan ayat yang menunjukkan hal itu sudah diturunkan. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibn Abbas, Hudzaifah, Hasan Al Bashri, Qatadah, Mujahid dan Al Dhahak. Diriwayatkan dari Al Barra’ ibn Azib dan Ubaidah Al Salmani: bahwa menjerumuskan ke dalam kebinasaan itu adalah pesimis dengan ampunan karena melakukan kemaksiatan.

Kedua: Berlebih-lebihan dalam berinfaq sampai tidak bisa makan dan minum sampai akhirnya binasa.

Ketiga: Menerobos perang langsung tanpa bermaksud menyerang musuh. Inilah yang diartikan oleh beberapa orang dalam riwayat di atas yang kemudian ditentang oleh Abu Ayyub sambil menyertakan sebab turunnya ayat tersebut.

Ketiga pandangan itu bisa memenuhi arti yang dimaksud oleh ayat di atas karena ada kemungkinan-kemungkinan atas lafadznya. Atau bisa dikorelasikan antara keduanya tanpa harus ada kontradiksi didalamnya.

Adapun tafsiran yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seseorang dibawa di arena musuh, maka Muhammad bin Al Hasan pernah menyebutkan dalam Al Siyar Al Kabir: “kalaupun ada seseorang dibawa kepada seribu orang, ia sendiri tidak ada masalah, jika ia ingin selamat atau menyerang. Namun jika tidak ingin selamat dan tidak pula menyerang, maka saya tidak setuju karena ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa ada manfaat buat kaum muslimin. Sedangkan jika ia tidak mau selamat atau tidak mau menyerang, tapi ingin membuat kaum muslimin lebih berani dan melakukan seperti apa yang ia lakukan sampai mereka terbunuh dan bisa membunuh musuh, maka hal itu tidak apa-apa, insya Allah. Karena kalaupun ia ingin menyerang musuh dan tidak ingin selamat, maka saya melihatnya tidak apa-apa untuk dilemparkan kepada musuh. Begitu pula jika ia menyerang yang lainnya dalam kelompok tersebut, maka itupun tidak apa-apa. Dan saya mengharap perbuatannya itu dapat pahala. Yang tidak boleh itu adalah sebagai berikut: jika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbuatan itu tidak ada manfaatnya, walaupun ia tidak ingin selamat dan tidak mau menyerang. Namun jika perbuatan itu membuat takut musuh, maka hal itu tidak apa-apa karena cara ini adalah cara yang paling tepat dalam menyerang, dan juga sangat bermanfaat bagi kaum muslimin”.

Imam Al Jasshash berkata: Apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang pendapat-pendapat itu adalah benar, dan tidak ada pendapat yang lain lagi. Maka tafsiran dalam riwayat Abu Ayyub yang mengatakan bahwa ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, itu ditafsirkan dengan membawanya kepada pihak musuh, karena bagi mereka hal itu tidak ada manfaatnya. Jika memang begitu maka tidak boleh ia memusnahkan dirinya tanpa ada manfaat bagi agama dan bagi kaum muslimin. Namun jika dalam pemusnahan diri itu ada manfaat bagi agama, maka ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Karena Allah SWT telah memuji para shahabat Nabi SAW yang melakukan hal itu dalam banyak firman-Nya. Diantaranya adalah:

Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah: 111).

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS. Ali Imran: 169).

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (QS. Al Baqarah: 207).

Dan beberapa ayat lagi yang menceritakan tentang pujian Allah terhadap orang mengorbankan jiwanya untuk Allah SWT.

Imam Al Jasshash melanjutkan:”Oleh karena itu hukum amar ma’ruf nahi munkar harus berbentuk ketika ia menginginkan kemanfaatan bagi agama, lalu mengorbankan jiwanya sampai terbunuh, maka ia mendapatkan kedudukan syuhada yang paling tinggi. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Telah meriwayatkan Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:”Semulia-mulia syahid adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berbicara dengan kalimat yang benar di hadapan penguasa tiran lalu ia terbunuh.” [ii] Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda yang artinya: “Jihad yang paling mulia adalah berkata yang benar dihadapan penguasa tiran.” [iii] Imam Al Jasshash di sini menyebutkan hadits Abu Hurairah yang artinya: “Sejelek-jelek orang adalah yang sangat kikir dan sangat penakut.” [iv] Imam Al Jasshash menambahkan lagi:”Cara menanggulangi sifat penakut adalah dengan memunculkan dalam dirinya sifat berani yang akan membawa manfaat bagi agama walaupun ia tahu itu akan membawa malapetaka.” Wallahu A’lam Bish Shawab. [v]

PENDAPAT IMAM AL QURTHUBI, DARI MADZHAB MALIKI

Imam al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: Ulama telah berbeda pendapat tentang masuknya seseorang dalam perang dan melawan musuh dengan sendirian. Maka Al Qasim bin Mukhirah dan Al Qasim bin Muhammad, termasuk ulama kami, berpendapat: Tidak apa-apa satu orang berhadapan dengan pasukan besar jika memang ada kekuatan dan niat ikhlas hanya kepada Allah saja. Jika tidak mempunyai kekuatan maka itu namanya kebinasaan.”

Pendapat lain: jika ada yang ingin mati syahid dan niatnya ikhlas, maka boleh dibawa. Karena tujuannya adalah salah satu dari musuhnya, dan hal itu sudah jelas dalam firman Allah Ta’ala yang artinya:”Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al Baqarah: 207).

Ibn Khuwaiz Mindad berkomentar: Adapun satu orang dibawa melawan seratus orang atau sejumlah kekuatan pasukan perang, atau kelompok pencuri dan penjegal, maka ada dua kondisi: pertama, ia tahu dan kemungkinan besar terbunuh. Tapi ia selamat, maka itu yang terbaik. Kedua, begitu juga kalau ia tahu dan kemungkinan besar akan terbunuh, tetapi ia akan menyerang atau terluka, atau bisa memberikan pengaruh yang cukup berarti bagi kaum muslimin, maka itupun diperbolehkan juga. Sebab telah sampai kepadaku berita bahwa pasukan umat Islam tatkala bertemu dengan pasukan Persia, kuda-kuda kaum muslimin lari dari pasukan gajah. Lalu ada seseorang dari mereka sengaja membikin gajah dari tanah, agar kudanya bisa jinak tidak liar lagi saat melihat gajah. Esok harinya, kudanya sudah tidak liar lagi melihat gajah, lalu dihadapkan kepada gajah yang kemarin menghadangnya. Ada orang yang berkata:”Ia akan membunuhmu!”, “Tidak apa-apa saya terbunuh asalkan kaum muslimin menaklukkan Persia!”jawabnya kemudian. Begitu juga pada peristiwa perang Yamamah, tatkala Bani Hudzaifah bertahan diri di kebun-kebun milik mereka, ada seseorang yang berkata kepada pasukan:”Taruh aku di dalam sebuah perisai dan lemparkan ke arah musuh!” Segerelah anggota pasukan muslimin melemparkannya ke dalam kebun, lalu bertarunglah ia sendirian sampai akhirnya bisa membuka pintu kebun.

Imam Qurthubi melanjutkan ucapannya: Dari sisi ini, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, menurut baginda apakah yang aku dapatkan jika aku berjihad di jalan Allah dengan sabar dan mengharap ridha Allah?”, “Kamu akan mendapatkan surga.” jawab Nabi SAW. Lalu orang itu terjun menerobos pasukan musuh hingga terbunuh. [vi] Dalam shahih Muslim, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW menarik mundur tujuh orang Muhajirin dan dua orang dari Anshar. Ketika orang-orang Quraisy mendesaknya, beliau berkata:”Siapa yang berani menghadang mereka, ia akan mendapatkan surga?”. Lalu seorang dari Anshar maju ke depan melawan mereka hingga ia terbunuh. Satu persatu mereka lakukan hal yang sama, sampai ketujuh-tujuhnya mati syahid semuanya. Kemudian Nabi SAW berkata:”Shahabatku belum melakukan peperangan yang sebenarnya!”. Ucapan beliau itu ditujukan kepada para shahabat yang lari tidak menjaga beliau saat diserang oleh pasukan Quraisy. Wallallahu A’lam bish Shawab.

Kemudian Imam Qurthubi menyebutkan ucapan Muhammad bin Al Hasan: Kalaupun satu orang dibawa berhadapan dengan seribu orang kaum musyrik sendirian, itu tidak mengapa jika memang ia ingin selamat atau menyerang musuh. Namun jika sebaliknya, hal itu dibenci (makruh), karena ia mempersilahkan dirinya untuk binasa tanpa memberikan manfaat buat kaum muslimin��. Dan seterusnya. [vii]

PENDAPAT IMAM AR RAZI, DARI MADZHAB SYAFII

Imam Ar Razi berkata dalam tafsirnya: yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala:”Janganlah kamu menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan” adalah janganlah kamu melakukan serangan kepada musuh dalam sebuah peperangan yang tidak menghasilkan manfaat apa-apa. Dan kamu tidak memiliki tebusan selain membunuh dirimu sendiri, kalau seperti itu maka tidak boleh. Yang diperbolehkan itu adalah jika sangat berhasrat sekali untuk menyerang, walaupun ia takut terbunuh. Sedangkan jika ia pesimis dengan penyerangan dan kemungkinan besar ia nanti terbunuh, maka ia tidak boleh melakukan hal itu. Pendapat ini disampaikan oleh Al Bara’ bin Azib. Dinukil dari Abu Hurairah bahwa ia mengomentari ayat ini dengan ucapannya:”Ia adalah orang yang independen di antara dua kubu”. Imam Ar Razi melanjutkan: di antara orang ada yang mengartikan salah, yaitu dengan mengatakan: pembunuhan semacam ini tidak haram dengan menggunakan beberapa dalil, diantaranya:

Pertama: diriwayatkan bahwa ada seorang dari kaum Muhajirin dibawa berhadapan dengan musuh sendirian, kemudian orang-orang meneriakinya:”Ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan!”. Lalu Abu Ayyub Al Anshari menjelaskan duduk perkaranya seperti yang disampaikan oleh Imam Al Jashash di atas.

Kedua: Imam Syafii meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebutkan surga, kemudian ada seorang dari Anshar berkata:”Ya Rasulullah, bagaimana jika aku terbunuh karena kesabaran dan mengharap ridha Allah semata?”, “Untukmu surga!”jawab Rasul. Kemudian lari menyerbu ke pasukan musuh hingga syahid dihadapan Rasulullah SAW. Juga ada seorang Anshar melemparkan baju besinya saat mendengar Rasulullah SAW menyebutkan surga tadi, lalu menyerang musuh sampai ia terbunuh.

Ketiga: Diriwayatkan bahwa ada seorang dari Anshar yang tidak ikut perang Bani Muawiyah. Kemudian ia melihat burung bergerombol dekat dengan temannya yang meninggal. Lalu ada seseorang yang bersamanya segera berkata:”Saya akan maju melawan musuh agar membunuhku, dan aku akan ikut perang yang didalamnya teman-temanku terbunuh!”. Orang itupun melakukannya, kemudian cerita itu diceritakan kepada Nabi SAW yang kemudian ditanggapinya dengan positif.

Keempat: Diriwayatkan ada suatu kaum sedang mengepung benteng, lalu ada seseorang berperang hingga meninggal. Dikatakan bahwa orang yang meninggal itu menjerumuskan dirinya sendiri kepada kebinasaan. Berita itu terdengar oleh Umar bin Khatab ra. Kemudian beliau mengomentarinya:”Mereka itu bohong. Bukankah Allah SWT sudah berfirman dalam Al Qur’an (yang Artinya):”Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah.”

Adapun orang yang mendukung tafsiran ini menjawab dalil-dalil di atas dengan mengatakan: kami hanya melarang hal itu jika tidak ada bentuk serangan (perlawanan) kepada musuh, tapi kalau serangan itu ada maka kami membolehkannya. [viii]

PENDAPAT IBNU KATSIR DAN IMAM THABARI

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Al Bara’ bin Azib Al Anshari:”Jika aku dibawa dihadapkan kepada musuh lalu mereka membunuhku, apakah aku masuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kebinasan?”, “Tidak!”jawabnya, lalu melanjutkan:”Allah Ta’ala telah berfirman kepada Rasul-Nya (yang artinya):”Maka berperanglah di jalan Allah sebab tidak dibebani selain dirimu sendiri.” Ayat “menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan” itu dalam bab nafakah, maksudnya tidak memberikan nafakah (infaq) dalam jihad. [ix]

Imam Thabari meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dalam tafsirnya, dari Abu Ishaq Al Subay’i berkata: Aku bertanya kepada Al Bara’ bin Azib (shahabat):”Wahai Abu Immarah, ada seseorang yang berhadapan dengan seribu musuh sendirian. Biasanya kondisi semacam ini, orang yang sendirian ini selalu kalah dan terbunuh. Apakah tindakan ini termasuk dalam kategori firman Allah Ta’la:”Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan”?, “Tidak, ia berperang sampai terbunuh. Karena Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:”Maka berperanglah di jalan Allah, karena tidak dibebankan kecuali dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’: 84).

PENDAPAT IBNU TAIMIYAH

Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab “Fatawa” nya tentang memerangi kaum Tatar. Berdasarkan dalil dari riwayat Imam Muslim dalam kitab “Shahih” nya dari Nabi SAW tentang kisah Ashhabul Ukhdud. Cerita itu mengkisahkan seorang bocah memerintahkan (kepada sanga raja) untuk membunuh dirinya, demi kemenangan agama (yang diyakininya) ketika meminta kepada algojo-algojo raja agar membaca: Bismillah Rabbi Ghulam (Dengan nama Allah, Tuhan boah ini) saat melemparkan panah ke arahnya. Ibn Taimiyah melanjutkan: Oleh karena itu para Imam yang empat memperbolehkan seorang muslim menyerbu sendirian dalam kubu pasukan musuh, walaupun kemungkinan besar mereka akan membunuhnya. Jika memang di situ ada kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kami telah beberkan panjang lebar masalah ini dalam beberapa tema yang lain. [x]

PENDAPAT IMAM ASY SYAUKANI

Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya “Fath Al Qadir” menjelaskan: yang benar dalam masalah ini adalah dengan memegang pada keumuman lafadz, bukan sebaliknya memegang teguh pada kasuistis (sebab turun ayat). Maka segala apa yang masuk dalam artian kebinasaan di dalam agama atau dunia, itu masuk dalam kategori ini. Termasuk dalam kategori ayat adalah masalah berikut: bila seseorang menyerbu dalam peperangan lalu dibawa berhadapan dengan pasukan besar, padahal ia yakin tidak bakal selamat dan tidak bisa mempengaruhi semangat perjuangan kaum muslimin. [xi]

PENDAPAT PENULIS TAFSIR AL MANAR

Di era modern ini, Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya “Al Manar” menyebutkan: termasuk dalam kategori larangan adalah ikut dalam peperangan namun tidak tahu (mengerti) strategi perang yang dipakai oleh musuh. Termasuk juga segala pertarungan yang tidak dibenarkan oleh syari’at, misalnya hanya ingin mengikuti nafsu belaka, bukan untuk menolong dan mendukung suatu kebenaran. [xii]

Pemahaman ini menunjukkan bahwa pertarungan yang diperhitungkan dan dibenarkan oleh syari’at adalah yang bisa menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kita bersama. Juga menginginkan kemenangan al haq bukan sekedar mengikuti hawa nafsu belaka. Maka hal ini tidak termasuk dalam menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

***

Saya (Qardhawi) yakin kebenaran itu sudah sangat jelas sekali, cahaya pagi itu sudah nampak bagi yang punya indera. Semua pendapat di atas membantah mereka yang mengaku-aku pintar, yang telah menuduh para pemuda yang beriman kepada Tuhannya kemudian bertambah yakin keimanannya itu. Mereka telah menjual dirinya untuk Allah, mereka dibunuh demi mempertaruhkan agama-Nya. Mereka menuduhnya telah membunuh diri dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Mereka itu, insya Allah, adalah para petinggi syahid di sisi Allah. Mereka adalah elemen hidup yang menggambarkan dinamika umat, keteguhannya untuk melawan, ia masih hidup bukan mati, masih kekal tidak punah. Seluruh apa yang kami minta di sini adalah: seluruh operasi itu dilakukan setelah menganalisa dan menimbangkan sisi positif dan negatifnya. Semua itu dilakukan melalui perencanaan yang matang sekali di bawah pengawasan kaum muslimin yang mumpuni . Kalau mereka melihat ada kebaikan, segera maju dan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah SWT berfirman yang artinya:”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 49).

******

——————————————————————————–

[i]. Hadits ini dinisbatkan oleh Ibn Katsir kepada Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa’I, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, juga kepada Al Hakim dengan syarat Syaihain dan yang lain-lainnya. Lihat: Tafsir Ibn Katsir: 1/228-229. cetakan El Helbi.

[ii]. Diriwayatkan oleh Al Hakim dan dishahihkannya pula, namun Imam Al Dzahabi menolaknya. Sebaliknya dishahihkan oleh Imam Albani dari jalan Al Khatib dalam kitab “Tarikh” nya. Lihat “Silsilah AHadits Shahihah (374)” dengan lafadz:”Tuannya para syahid adalah Hamzah, dan orang yang berhadapan dengan pemimpin tirani, lalu ia memerintah dan melarang pemimpin tersebut, tapi malah ia dibunuh olehnya.”

[iii]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah melalui jalan Athiyyah Al Ufiy. Tirmidzi berkomentar: Hadits ini Hasan Gharib. Imam Nasa’I juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, seperti ucapan Al Mundziri, dari Thariq bin syihab. Lihat: Al Muntaqa (1364).

[iv]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2511), Ahmad (7977), dishahihkan oleh Syeih Ahmad Syakir dan Ibn Hibban dalam shahihnya.

[v]. Ahkam Al Qur’an, Abu Bakr Al Jashash: 1/262-263.

[vi]. Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Jihad, bab Perang Uhud; 3/1415 dan 1789.

[vii]. Tafsir Al Qurthubi; 3/363. Daar El Misriyyah

[viii]. Tafsir Al Fahr Razi; 2/148.

[ix]. Tafsir Ibn Katsir; 1/229. cet. El Helbi.

[x]. Lihat Majmu’ Fatawa Syeikhil Islam Ibn Taimiyah; 28/540.

[xi]. Fath el Qadir, Asy Syaukani; 1/262. cet; Daar el Wafa’, Mesir

[xii]. Tafsir Al Manar; 2/213.

oleh : Maszlee Malik, Durham, UK

Di kala media barat sibuk menjaja pergaduhan ataupun pertelingkahan di antara HAMAS dan Fatah, di Gaza lain pula yang berlaku. Semenjak kerajaan HAMAS berjaya mengusir agen-agen AS dan Israel yang berselindung di sebalik pertubuhan Fatah, pelbagai isu menarik timbul di Gaza. Di kala media-media barat sibuk mengatakan Gaza berada di dalam kekecohan, HAMAS mengadakan pemberontakan, dan juga peperangan saudara telah terletus di Gaza, pimpinan Fatah di Gaza telah membuat kejutan. Di dalam keadaan tersebut, mereka muncul menjelaskan keadaan sebenar yang berlaku.

Para pemimpin Fatah di Gaza yang diketuai oleh Husam al-‘Udwan pada 17 Jun 2007 telah menuntut pimpinan tertinggi Fatah untuk memecat Muhammad Dahlan dan konco-konconya dari Fatah. Menurut mereka, beliaulah dalang yang memecah belahkan rakyat Palestin. Mereka menuduh beliau sebagai agen AS dan Israel yang ditugaskan untuk memastikan rakyat Palestin berperang sesama sendiri. Kenyataan akhbar tersebut yang berlangsung di hotel Ramattan, di Gaza itu telah disiarkan secara langsung oleh beberapa badan penyiaran negara-negar Arab termasuk stesyen televisyen al-Jazeera.

Di kala Dahlan mendapat sokongan dari Mahmoud Abbas, para pemimpin senior Fatah yang lain pula giat menentang. Hanya mereka yang dijanjikan kekuasaan dan juga mempunyai agenda yang sama dengan Dahlan sahaja menyokong Mahmoud Abbas mengenai sikap beliau itu. Apa yang menarik mengenai Muhammad Dahlan?

Di antara kesan daripada penguasaan HAMAS ke atas Gaza ialah kejayaan mereka mententeramkan suasana di Gaza. Di kala Tebing Barat kini menyaksikan para anggota pasukan keselamatan di bawah pimpoinan Mahmoud Abbas giat menangkapdan membunuh para aktivis dari fraksi-fraksi perjuangan Palestin yang lain, di Gaza rakyat hidup dengan tenang sahaja. Di para pimpinan Fatah yang dilantik Abbas sedang berebut membahagi-bahagikan habuan dari luar yang sepatutnya disalurkan kepada rakyat, para pentadbir Gaza tidak menghadapi masalah tersebut. Di kala keadaan di Tebing Barat menjadi semakin rumit dan tegang, di Gaza kini rakyat sudah mula dapat meneruskan kehidupan mereka kembali. Mengapa?, semuanya kerana ketiadaan Muhammad Dahlan dan konco-konconya.

Bukanlah sesuatu yang rahsia mengenai kejayaan HAMAS merampas segudang senjata yang dikirimkan oleh AS kepada Muhammad Dahlan dan anggota keselamatannya untuk mengadakan revolusi berdarah di Gaza. Bukan lagi rahsia juga penemuan dokumen-dokumen korupsi para pimpinan fatah semenjak zaman Arafat lagi di pejabat-pejabat kerajaan dan juga pejabat Fatah selain daripada kondom-kondom yang berteraburan dan masih segar selepas digunakan. Bukan lagi rahsia juga penemuan fail-fail rahsia mengandungi segala maklumat konspirasi AS dan Israel yang melibatkan pembunuhan para pemimpin Palestin dan pejuang-pejuang mereka. Bukan lagi rahsia juga, sepertimana yang dilaporkan oleh Wall Street Journal penemuan dokumen-dokumen rahsia yang menunjukkan kerjasama di antara Muhammad Dahlan dengan CIA dan juga Mossad.

Bukan sekadar dokumen-dokumen yang ditemui, malah segala maklumat perisikan dan juga alat-alat perisikan terkini telah berjaya jatuh ke tangan HAMAS. Hal ini amat membimbangkan rumah putih dan juga Tel Aviv. Hal ini telah diperakui oleh Michael Scheuer, mantan pegawai tertinggi jabatan “counterterrorism” pihak CIA yang telah meninggalkan badan perisikan tersebut semenjak tahun 2004. Di dalam sebuah artikel yang ditulis bersama oleh Cam Simpson dan Neil King Jr di Wall street Journal, Scheuer mengaku pernah terlibat membekalkan para anggota Fatah di bawah Dahlan dengan pelbagai maklumat dan latihan mengenai teknologi perisikan yang terkini.
Hal yang sama diakui oleh Efraim Halevy, mantan pegawai tertinggi badan perisikan Israel, Mossad. Beliau mengakui bahawa AS telah melaburkan modal yang banyak untuk pembinaan infrastruktur perisikan tercanggih di kalangan anggota Fatah di bawah Dahlan demi menjayakan agenda mereka di rantau berkenaan. Segala maklumat yang strategik dan penting itu kini berada di tangan “pihak yang tidak sepatutnya”. Hal ini merupakan satu ancaman kepada AS dan Israel. Beliau walau bagaimanapun enggan mengulas lanjut mengenai kekuataan yang dipunyai oleh HAMAS berdasarkan maklumat dan juga infrastruktur perisikan terkini yang telah berjaya mereka perolehi.

Avi Dichter, menteri keselamatan awam Israel dan juga mantan pengarah tertinggi Shin Bet, badan perisikan Israel yang lain pula menyatakan perkara yang sama. Beliau mengakui bahawa kini HAMAS telah menguasai teknologi perisikan “Signit” (Signal Intelligent) yang hanya dimiliki oleh AS dan Israel. Beliau enggan mengulas kekuatan terkini HAMAS untuk menangkis sistem perisikan Israel dengan infrastruktur yang mereka miliki.

Keadaan menjadi bertambah runcing bagi AS, Israel dan Fatah apabila para pegawai Fatah di Gaza telah turut membantu HAMAS untuk menggunakan segala prasarana tersebut. Mereka juga turut membantu HAMAS untuk mengetahui lebih banyak rahsia mengenai konspirasi Fatah-AS dan Israel melalui Dahlan. Berbekalkan kekuatan yang diperolehi oleh HAMAS ini, Ditcher mengatakan bahawa HAMAS kini sudah mengetahui kemampuan teknologi musuh mereka. Perkara ini akan membuatkan mereka berpotensi untuk melawan semula sistem perisikan dan serangan yang dimiliki oleh Israel. Beliau juga mengakui bahwa persenjataan yang dimiliki oleh HAMAS kini merupakan satu “bonus” dan durian runtuh bagi gerakan tersebut. Senjata-senjata yang mereka hanya berjaya memperolehinya melalui penyeludupan yang memakan masa bertahun-tahun kini telah berjaya mereka miliki selama beberapa jam sahaja dari tangan para pejuang Fatah pro-Dahlan.

HAMAS juga telah berjaya menawan tiga pejabat rahsia perisikan yang pernah digunakan oleh Dahlan dan konco-konconya. Ketiga-tiga pejabat “rahsia” tersebut telah beroperasi semenjak Dahlan menjadi menteri keselamatan dalam negeri pada tahun 1996 lagi. Dahlan yang telah dilatih oleh mantan pengarah CIA, George Tenet telah menjadi agen CIA di Palestin untuk tujuan menghancurkan para pejuang Palestin. Beliau juga telah digunakan oleh CIA untuk menjadi sumber perisikan mereka ke atas negara-negara Arab lain di Timur Tengah.

Menurut pemimpin senior HAMAS, Dr Khalil al-Hayya, kini pihak perisikan dan profesional HAMAS sedang meneliti segala maklumat dan dokumen yang mereka perolehi. Menurut beliau, segala maklumat tersebut mempunyai perincian setiap seorang dari kalangan perisik Fatah yang bekerja untuk AS dan Israel, lokasi mereka, dan segala maklumat terperinci mengenai kegiatan perisikan mereka pada masa lalu dan di masa akan datang. Dr Khalil juga mendedahkan betapa para perisik Fatah bukan sahaja menjalankan usaha perisikan di bumi Palestin sahaja, malah mereka juga menjalankan usaha perisikan di negara-negara Arab yang lain untuk kegunaan AS dan Israel. Apabila ditanyakan oleh para wartawan mengenai negara-negara mana yang berada di dalam sistem perisikan Fatah. Beliau hanya manamakan tiga buah negara dahulu, iaitu Mesir, Arab Saudi dan juga UAE.

Dr Khalil juga mendedahkan penemuan fail-fail sulit skandal dan korupsi pemimpin-pemimpin Fatah yang berada di tangan Dahlan suatu waktu dahulu. Fail-fail tersebut telah digunakan oleh Dahlan untuk memastikan mereka semua tunduk dan mengikuti perintahnya agar tidak didedahkan. Keadaan ini menjadikan para pemimpin Fatah kini sudah tidak senang duduk. Pemimpin tertinggi Fatah, dan juga musuh Dahlan di dalam Fatah, Jibril Rjoub juga telah menyokong kenyataan Dr Khalil. Menurut beliau, kegiatan Dahlan dan konco-konconya telah lama diketahui oleh para pimpinan Fatah yang lain. Rjoub menamakan mereka sebagai agen kepada kuasa luar.

Perkara ini walau bagaimanapun disangkal oleh Bruce Reidel, mantan pegawai CIA untuk rantau timur tengah selama 30 tahun dan penasihat kepada presiden Bush dan Clinton. Beliau tidak menafikan bahawa AS memang telah banyak membantu Fatah di dalam bidang perisikan. Beliau juga tidak menafikan betapa pihak perisikan Fatah di bawah Dahlan telah banyak membantu AS untuk mendapatkan maklumat yang penting. Walau bagaimanapun beliau meragui kenyataan Dr Khalil mengenai operasi perisikan Fatah untuk AS di luar Gaza dan Tebing Barat. Beliau menyindir pihak perisikan Fatah dengan mengatakan bahawa mereka selalu ingin membuktikan kemampuan mereka walaupun tidak diminta.
Seperkara yang lebih memeranjatkan ialah keterlibatan Dahlan dan konco-konconya di dalam usaha pembunuhan para pemimpin Palestin seperti Yaser Arafat, Syeikh Ahmad Yasin, Dr Abdul Aziz al-Rantisi dan lain-lain lagi. Lebih menarik, perancangan pembunuhan Dr Khalil sendiri telah berjaya beliau temui di dalam dokumen-dokumen berkenaan. Beliau walau bagaimanapun telah terselamat dari percubaan pembunuhan beliau pada bulan Mei yang lalu. Perkara ini telah membuatkan ramai lagi di antara para anggota Fatah di Gaza kini telah mula hilang kepercayaan terhadap presiden Mahmoud Abbas yang telah mempertahankan Dahlan dan mengikuti arahan AS serta Israel.

Apakah pula sikap Muhammad Dahlan?
Semenjak pembongkaran rahsia besar ini oleh pihak HAMAS, beliau telah meletakkan jawatan di dalam pentadbiran Abbas dan enggan membuat apa-apa kenyataan kepada pihak media.”

this is my artwork for earth day 2007!

EARTH day 2007

try to think of earth sometimes,please!

here the message from the photographer…feel free to sympathize! or get lost!

Palestine Photographer /  Tahreer @ Balata

These photos taken by Tahreer, age 15,this is his message..

There are many martyrs from the camp.In th epast few years the israeli army has killed many people during the invasions of Balata.Sometimes they kill fighters who defend the camp against the occupation and sometimes they kill people from the camp sitting in their homes.Recently i can think of two 15 year old boys who were shot while drinking tea on their roof of their home and another woman who was short siting inside her home.What is the reason for these killing?

How come theses men who fight against tha occupation are called terrorists,and the israelis are not? They terrorize us with the occupation they are the terrorists.The fighters from risk their lives in order to defend the camp against the israelis when they invade,that is not terrorism.

No one in the camp wants to die.We enjoy life like evryone else and we want to be freee like everyone else.The israelis dont want us to be free.I photograph martyrs and their families in the camp,because they our heroes and people should know what they have have sacrified.

Palestine Photographer /  Taha @ Balata

These photos taken by Taha, age 16,this is his message..

I take photos because in the camp there no good media;there is no good image of Paletinians for the people outside.They think the Palestians are terrorists.They think that israelis are the victims and we are occupiers.I want to make it clear that they are oocupying us.So i want to take pictures of this camp,my home,to show I’m proud of Balata.I want to show the people outside who the Palestinians people are and how they work.

It’s hard for someone from the camp to work because the economy is bad.There is no chance to find a job.A lot of people are taxi drivers.Driving a taxi isn’t good work,you can drie for hours with out finding a fare.All the money goes to gasoline.My friend worked for 11hours today and made only 10 shekels(about $2)after gas and paying 30 shekels to the person he rented the car from.

It’s important to talk about the drivers,because a lot of young people don’t have work,and they have to work as drivers.The future of these young people are dying,they are losing jobs.We have to show this problem to the outside world and to the people in Palestine.

Palestine Photographer /  Safaa @ Balata

These photos taken by Safaa, age 12,this is her message..

My project is taking portraits of the children in the camp.I want to show the impression of the face of the children who i take portraits of-their style of living,their background,their experience and how they suffer here from the occupation.

The children here live in horror and panic;sometimes the mothers will tell the children not to go outside because the army will come.There are invasions;the army comes,they sit in the camp,the kids throw stones,and maybe the army will shoot at them and one will die.There is place to play.They can’t go to school when there are invasions.They are missing their childhood.

In america the mothers don’t have to worry baout their children being shot.The kids there are not absent because teh school is closed because of the occupation.They have freedom,they are safe.Everything is avilable to them.They can go to play yard,they can go to school;they aren’t streessed from the pressure of an occupation.The big difference between the kids here and the kids in america is that they have rights and we have none.

Palestine Photographer / Sabreen @ Balata

These photos taken by Sabreen, age 17,this is her message..

Life in Balata is hard.Many people from the camp have been injured or imprisoned,and those who resist the israeli occupation by military means are forced sleep on the street so they don’t endanger the lives of their families.The children have no freedom,nowhere to play,no future,and no education.The water is polluted,the people are unemployed.This is the tragedy of Palestine.

Women in the camp have it particularly hard.Take may cousin for example,who was recently killed by the by the israeli army.Two months after he was born,his father was arrested and sentenced to 20 years in prison.His mother had to raise him on her own.And there are many women in similar situations,Whose husbands or sons are dead or in prison,and they are left alone to raise their families.They’re under lot of pressure to do a good job so that the kids don’t get involved with crime or other self destructive activities.

When the oldiers invade the camp,they have o respect for families.Before entering a house they often send in their dogs.They don’t let the women dress,they force them out onto the street wearing only a nightgown,which in our culture is like going out in your underwear.

Despite all that,many women here lead very active lives.They study,get involved with all sorts of things,and raise fanilies.Without women our society could not survive.

I want to show women outside,especially israeli women,how we,the Palestinian women,are living.I want to show them how we are going to universities and working to build this society and taking care of our families and how we are struggling against occupation.And we will continue to struggle until the occupation ends.

Palestine Photographer / Mohamed @ Balata

These photos taken by Mohamed(aka Butch) age 15,this is his message…

It’s hard for the people from the camp.We don’t own anything.Our lands were taken,most don’t own businesses,and we are dependent on israel for work.After 2000 when israel stopped allowing in Palestinians to work over half the camp became unemployed.

It’s hard now with everyone looking for work.People with degrees from the university cannot find work in their fields.Some people have to drive a taxi or sell fruits and other things in the Market.Maybe they will work from sunrise to sunset and make only a little money.

Outside people think we are terrorists,but they don’t understand how we struggle in our life.They don’t understand the relationship between the israeli soldiers and us the Palestinians and how they control us.israelis enjoy comfortable lives;they have good oppurtunities and lots of money.We are the ones without security.

Palestine Photographer / Hadil @ Balata

These photos taken by Hadil, age 15,this is her message…

In Balata,our lifestyles are different than the people living outside Palestine.People outside don’t understand what an invasion is like,what it’s like to stay up listenig to gunshots.They don’t know that every night someone can be arrested,killed,injured.It’s a very hard life here.especially for the children.

The layout of the camp is also not good for children.The houses are very close,there is no air,no sun,mo pruvacy and everyone lives in this kind of houses their whole lives.There is no place for children to play except the narrow alleys.

I choose to take pictures of the streets because it is an important part of how we live.I notice that when photograph a child,maybe the child will smile or pose for the camera and that expression might not reflect how the child is really feeling.But the streets,they can’t lie.They can’t smile or pose for the camera because they are not human beings.This is the way it is.

Palestine Photographer / Fadi @ Balata

These photos taken by Fadi,age 18,this is his message…

In Balata we don’t know how to sleep.When we want to go to bed, the soldiers invade the camp every night.Maybe they will come to your house one night, and if they don’t go to yours they will go to your neighbor’s house.And it is hard to leave Balata.In any direction you go from here you will find a checkpoint, and crossing those checkpoints is very hard.Basically the situation is like a big prison, the occupation controls our lives in every way.

Thousands of people have been arrested from the camp in recent years.They are arrested because of resisting the occupation.Maybe some of them throw stones against the soldiers when they are arrested or maybe they are just walking down the street,anyone can be arrested at any time.My cousin for example was arrested from his home because they said he might pose a threat to israel.But he didn’t do anything he had a new son,but they held him in jail without charge or trial for 2 years.He wasn’t able to see his son at all during that time.

I hope to show people the stories of Palestinian prisoners.I know that the entire world can the name of kidnapped israeli soldier,but no one can even name one of the 10,000 Palestinians in israeli jails.This is the problem,the media.They don’t cover conflict equally and that is why I like journalism and photography,so we can tell our own story.

Palestine Photographer / Do'a @ Balata

These photos taken by Do’a age 11,this is her message…

Here in Balata there is very little for the children, the situation here is very bad and people outside dont care about us,the Palestinians.The children are very aggressive.They see many bad things like when people are killed or injured by the israeli soldiers.The children are deeply affected by the occupation and still somehow they know how to smile.

I am not a terrorist I am a Palestian.People think that we are doing bad things to the israelis, but it is the opposite.They are controlling our lives, not the other way around.

I would like to be a journalist,maybe one day work for Al-Jazeera.I hope thet when I take a picture someone outside will see it and it will make us stronger.It’s important for people outside Palestine to know about situation here.They must know about the lives of the children.

Palestine Photographer / Ala @ Balata

These photos taken by Ala, age 14, this is her message…

The story of the people in Balata is tragic.We have faced may difficulties since leaving our homes in 1948.Now, there no place for people to go, nowhere to relax and reduce the stress.This is not only the situation in balata but all of the Palestinian refugee Camps.

Here,there is no life.I know about the lives of children outside from television mostly.I know that they have many rights that we don’t have.They have better lives.The children can go to the park or to the play yard, have picnics, etc…We don’t have this here.While we paly football or hide and go seek in streets the Army will come to the camp.Then all the children will go homes or stay in the street and throw stones at the Jeeps.

It’s scary at night for children.I am scared of teh israelis.My younger sisters cry at night when they hear the shooting.They wake up and run to my mother.

I want to speak to the americans since they are living better than we and they are also supporting the israeli occupation of our land.I hope when people see my photos they will wonder about the phot.I hope my photos can teach people outside something about our situation.

to be continued…so sleepy..

wonder what would happen if we treated our Qur’an like we treat our cell phones? What if we carried it around in our purses or pockets? What if we turned back to go get it if we forgot it? What if we flipped through it several times a day? What if we used it to receive messages from the text? What if we treated it like we couldn’t live without it? What if we gave it to kids as gifts? What if we used it as we traveled? What if we used it in case of an emergency? This is something to make you go …hmm…where is my Quran? Oh, and one more thing. Unlike our cell phone, we don’t ever have to worry about our Qur’an being disconnected ! Pass this on insya Allah….

1. Did you know that non-Jewish Israelis cannot buy or lease land in Israel? A Jew from any country in the world is guaranteed citizenship in Israel, while the Palestinians who have been there for centuries are oppressed and persecuted.

2. Did you know that instead of sewing an insignia on clothing to distinguish race (like the Germans did to the Jews before WW2), Palestinian license plates in Israel are color coded to distinguish Jews from non-Jews?

3. Did you know that East Jerusalem, the West Bank, Gaza, and the Golan Heights are all considered by the entire world community, including the United States and the United Nations, to be occupied territory and NOT part of the State of Israel?

4. Did you know that Israel allots 85% of the water resources for Jews, and the remaining 15% is divided among all Palestinians in the territories? For example in Hebron, 85% of the water is set aside for about 400 Jewish settlers, while the remaining 15% is distributed among Hebron’s 120, 000 Palestinians?

5. Did you know that the United States awards Israel $5 billion in aid each year from American tax dollars?

6. Did you know that US aid to Israel ($1.8 billion annually in military aid alone) exceeds the aid the US grants to the entire African continent? This aid is used both to buy American weaponry and to buy arms made in Israel.

7. Did you know that Israel is awaiting an additional $4 billion worth of American military hardware, including new F-16s and Apache and Blackhawk helicopters. As Israel’s main ally and supporter internationally, the United States is committed to maintaining the Jewish state’s “qualitative edge” in weapons over its neighbours.

8. Did you know that the U.S. administration has notified Congress on numerous occasions that Israel has violated the rules on how US-supplied weapons are used? (In 1978, 1979 and 1982 during fighting in Lebanon, and once after Israel’s bombing of an Iraqi nuclear reactor in 1981.)

9. Did you know that Israel is the only country in the Middle East that refuses to sign the nuclear non-proliferation treaty and bars international inspections from its sites?

10. Did you know that high-ranking military officers in the Israeli Defence Forces have admitted publicly that unarmed prisoners of war have been summarily executed by the Israeli forces?

11. Did you know that Israel blew up an American diplomatic facility in Egypt and attacked a US warship in international waters (the USS Liberty), killing 33 and wounding 177 American sailors and the US did nothing about it? (Imagine if an Islamic country like Iraq did this!)

12. Did you know that Israel stands in defiance of 69 United Nations Security Council Resolutions?

13. Did you know that Israel is explicitly dedicated to the policy of maintaining a distinct Jewish character?

14. Did you know that Israel’s current Prime Minister, Ariel Sharon, was found by an Israeli court to be “personally and directly responsible” for the Sabra and Shatilla massacre in Lebanon where more than a thousand innocent Palestinian men, women, and children were axed to death or lined up and shot in cold blood?

15. Did you know that on May 20, 1990, a group of unarmed Palestinian labourers were lined up and murdered by an Israeli solider as they sat waiting for transportation back to Gaza? The terrified labourers who gathered in an area of southern Israel known as Rishon Lezion (known to Palestinians by its Arabic name Oyon Qara) handed their ID cards to the Israeli soldier. The soldiers ordered the distressed labourers to kneel down and face the ground and unexpectedly showered them with a barrage of bullets, killing seven and wounding many others. Needless to say, the soldier was not charged with any crime.

16. Did you know that until as recently as 1988, Israelis were permitted to run “Jews Only” job ads?

17. Did you know that the Israeli Foreign Ministry pays six US public relations firms to promote a “positive image” of Israel to the American public?

18. Did you know that Sharon’s coalition government includes a party–Molodet–which advocates ethnic cleansing by openly calling for the forced expulsion of all Palestinians from the occupied territories?

19. Did you know that recently-declassified documents indicate that David Ben-Gurion approved of the forced expulsion of Arabs from all Palestinian territory in 1948?

20. Did you know that the former chief rabbi of Israel, Rabbi Ovadia Yossef, who is also a founder and spiritual leader of the religious Shas party (Israel’s third largest political party) openly advocates a ‘Final Solution’ to annihilate the Palestinians? Speaking at the widely broadcast sermon marking the last Passover, he declared of the Palestinians: “The Lord shall return their deeds on their own heads, waste their seed and exterminate them, devastate them and vanish them from this world. It is forbidden to be merciful to them. You must send missiles to them and annihilate them. They are evil and damnable.”

21. Did you know that Palestinian refugees make up the largest portion of the refugee population in the world?

22. Did you know that Palestinian Christians are considered the “living stones” of Christianity because they are the direct descendants of the disciples of Jesus Christ? And the Palestinian Christians stand united with their Muslim brethren in the struggle against the Israeli occupation.

23. Did you know that despite a ban on torture by Israel’s High Court of Justice, torture has continued unabated by Shin Bet interrogators on Palestinian prisoners?

24. Did you know that despite every Israeli attempt to disrupt Palestinian education, Palestinians have the highest ratio of PhDs per capita in the world?

25. Did you know that the right of self-determination is guaranteed to every human being under the Universal Declaration of Human Rights [December, 1948], yet Palestinians were/are expected to negotiate for this right under the Oslo Accords?

26. Did you know that despite what is widely perpetuated and written in the history books that the Arabs attacked Israel in the 1967 war, it was Israel who attacked the Arab countries first, capturing Jerusalem and the West Bank, and called the attack a pre-emptive strike?

27. Did you know that, as an occupying power, Israel has a particular responsibility under the Geneva Conventions to protect Palestinian civilians?

28. Did you know that, despite Ariel Sharon’s public call for a unilateral ceasefire, Israeli soldiers have not stopped shooting, killing or bulldozing Palestinian homes? The most recent example of this is the murder of three innocent women who were shot by an Israeli tank as they sat in their tent!

29. Did you know that the Zionists have been trying to destroy Masjid al-Aqsa and the Dome of the Rock for the last 50 years by digging underground tunnels beneath the sites to weaken its foundation causing it to collapse?

30. Nelson Mandela called the Israeli government an apartheid regime, just like South Africa used to be.

Courtesy of Mission Islam.

from islamicawakening.com 

Does the Koran support Jewish control of the Holy Land?
here a story about a muslim who is supporting zionist..first of all im in no position to judge him…im just wanna share this.
 
this article originaly from David Margolis Journalism
Does Islam deserve its title as “one of the world’s great religions”? There are reasons these days to view it, especially here in Israel, as a source of terrorist bombings, murderous incitement against Jews, denials of Jewish connection to Jerusalem, and repression, especially of women - cruelty and crudity, fundamentalism and fanaticism. Nor does the American Muslim community seem to demur very much.

So let me introduce you to Shaykh Professor Abdul Hadi Palazzi, representative of an Islam that speaks in a loving voice and acknowledges its debt to Judaism - and who is, I suspect, on the verge of becoming a celebrity in the Jewish world.

Palazzi’s impeccable credentials as a Muslim cleric include a Ph.D. in Islamic Sciences by decree of the Grand Mufti of Saudi Arabia and years of study with Islamic teachers in Cairo and Europe. A leader of the Muslim community in Italy, he currently serves as secretary-general of the Italian Muslim Association in Rome.

And he’s a Zionist.

Palazzi accepts Jewish sovereignty over the Holy Land (he says the Koran supports it as the will of God and, theologically, a necessary prerequisite for the Final Judgment). He accepts - even prefers - Jewish sovereignty over Jerusalem, if the rights of other religions are protected. He quotes the Koran to support Judaism’s special connection to the Temple Mount. “The most authoritative Islamic sources affirm the Temples,” he says, contradicting the current mufti of Jerusalem (the “pseudo-mufti,” he calls him, dismissing him as a political appointee). He adds that Jerusalem is sacred to Muslims because of its prior holiness to Jews and its standing as home to the biblical prophets and kings David and Solomon, all of whom are sacred figures in Islam, too.

Moreover, the Koran “expressly recognizes that Jerusalem plays the same role for Jews that Mecca has for Muslims” - the center toward which prayer is directed. Just as no one wishes to deny Muslims sovereignty over Mecca, he goes on, there is no sound Islamic theological reason to deny the Jews the same right over Jerusalem. “In the present situation,” he has said, directly contradicting Palestinian demands, “the only way to preserve religious freedoms for all three major religions is for Israel to be the single sovereign over the Old City.” Nor, according to Palazzi, is there any basis in Islam for prohibiting Jews from praying on the Temple Mount, as is currently the case.

So if that’s true Islam, what are we reading in the daily papers? In Palazzi’s view, Islam has been hijacked by the Wahabi movement in Saudi Arabia, a radical reformist movement which denies the traditional - that is, moderate - understanding of the Koran and has taken control of Mecca and Medina.

That in itself might have had only minor ramifications, but oil made the followers of the movement almost unbelievably rich. Usually, Palazzi muses, regions blessed with higher civilizations become wealthy and then assume wider cultural dominance. But in this case, the contrary occurred: money made a primitive and violent culture powerful over a wide area. And now, “they are reshaping Islam in accordance with their political issues.”

Palazzi says that Morocco, Tunisia, Jordan and other moderate Arab countries restrict the Wahabi sect. But in European countries, where the commitment to religious freedom allows it to thrive, it has successfully claimed to represent Islam. (In the US, Palazzi claims, the movement trains Muslim chaplains for the US Army, and its members are invited to the White House.)

No network of Muslim scholars exists to oppose fundamentalism, and Saudi funding of ministries of religion in many countries keeps local imams from speaking out. Nonetheless, Palazzi believes that a new attitude is emerging among some Islamic thinkers. “Many of us are now ready to admit that hostility for Israel has been a great mistake, perhaps the worst mistake Muslims have made in the second half of this century.”

The Shaykh has no hesitation about promoting this stance. He serves in Israel as co-chair of the Root and Branch Association’s Islam-Israel Fellowship and Muslim chairman of the Association’s Jerusalem Embassy Initiative, which calls for “the nations of the world to move their embassies in Israel to Jerusalem, thereby recognizing Jerusalem as the eternal, exclusive and undivided capital of the Jewish People and the State of Israel, and as the spiritual center of mankind.”

The son of an Italian mother and a Syrian father, Palazzi in person is a bearish, good-humored man with a trimmed beard and close-cropped hair and wearing, the night I met with him, a crew-neck sweater, cargo pants, and no head covering. No robe, no turban. He is an extremely unassuming man.

Almost everyone to whom I mention Palazzi says something like, “Isn’t he afraid he’ll get killed?” That is itself a sign of how low Islam has allowed itself to sink in Western eyes. But Palazzi says he’s not afraid, because he is saying nothing that is not based in the Koran. Not living in the Arab world makes it easier for him to speak out, of course, but he names shaykhs even in the Palestinian Autonomy who he insists are largely in agreement with him.

His impact - aside from becoming the Muslim cleric best loved by Jews - remains to be seen. But at least he is helping to rescue the honor of Islam by representing it, not as a fanatical and murderous sect irrevocably bent on harm, but as a subtle and loving spiritual path, open to the world and glad to acknowledge its bonds of brotherhood with Judaism and Jews.

11 February 07

Seed of Hope Planted with new Palestinian National Unity Government: But is there water to help it grow?

“I have been waiting for this day for so long—I can’t believe that it’s happening: a ceasefire! Today we should celebrate,” exulted a 23 year old Gaza City man, draped half out of the car he rode in, Palestinian flags waving. All around, the honking of cars celebrated the Mecca agreement between Palestine’s two largest parties, Hamas and Fateh.

Throughout the Gaza Strip, celebratory gunfire rang out and fireworks lit the skies of the violence-plagued region, following the signing of a Hamas-Fatah power-sharing agreement that seems to have pulled the two sides back from the brink of civil war. As soon as the deal had been reached, with Fatah and Hamas leaders shaking hands before television cameras, Palestinians took to the streets, this time not protesting, but celebrating the success of forming a national unity government.

Umm Ibrahim, 62, from Rafah, stated: “Now, I hope that the US and Israel have no further excuses to cut aid to Palestinians. We hope this agreement will end this grave situation and our suffering.” She added: “We will keep hoping, and we congratulate both parties and encourage them not to let enemies destroy them, as all our bodies suffer the same pain.”

However, there are serious doubts that the new unity government agreement will be enough to persuade the EU, the United States, Israel, and other countries to lift their economic and political embargo on the Palestinians. The boycott, which started following the democratic election of Hamas, January 25, 2006, sees approximately $1 billion in foreign aid frozen annually, not to mention roughly $500 million of Palestinian taxes collected and withheld by Israel.

As part of the reported deal, the two sides would divvy up cabinet posts — nine for Hamas, six for Fatah, and four to independents — in a government to be headed by the current prime minister and Hamas leader, Ismail Haniyeh. Significantly, in compliance with Palestinian President Mahmoud Abbas’ demand, Hamas would also agree to “respect” previous international agreements signed by the Palestine Liberation Organization (PLO), including the 1993 Oslo agreement which Hamas has rejected from the start. Both parties agreed to rebuild the PLO, which is the only representative body for Palestinians.

Significant Timing

The Mecca agreement comes as Palestinians have taken to the streets, together, in the past few days, to protest against excavations around Jerusalem’s Al -Aqsa mosque, the third holiest site in Islam. After Friday prayers, indignation flared at Al Haram Al Sharif as hundreds of Israeli riot police entered the mosque compound, where Palestinians under the age of 45 had been barred entry. Police used stun grenades and tear gas to clear the crowds, arresting protesters. Over 20 Palestinians were injured in clashes with Israeli police. While Israeli officials state the excavations are “necessary renovations” and are far away from the mosque, Palestinians maintain that important structures have been destroyed and that the digging could damage the foundation of key parts of Al-Aqsa. The timing, if nothing else, is significant, the destruction having started in the midst of heightened tensions. Even if Israeli claims are true of having planned the reconstruction earlier, it remains clearly strategically timed to inflame tensions, as past excavation attempts have (1996, 2000), disdain Muslim religious sensitivities, and further demoralize Palestinians.

A Significant Location

President Abbas, of Fatah, and Khaled Meshaal, leader of Hamas now exiled in Damascus, signed the deal in a Mecca palace, overlooking the Great Mosque which houses Islam’s holiest shrine, the Kaaba. In attendance were Saudi King Abdullah, various government members, and representatives from both Hamas and Fatah.

Meshaal said the Mecca accord, “will unify our ranks. There is a commitment and unity. We will preserve this partnership.” More than 290 people were killed and injured in Gaza in the four days of inter-factional fighting that preceded the emergency talks.

While ceasefires and unity agreements between the feuding factions have been struck before, only to dissolve into more in-fighting, Meshaal promised this accord would not be broken. “I tell those who fear that the fate of this agreement will be the same fate of the old ones…we have pledged our allegiance to God at this sacred place and we will go back to our country fully committed to it.” He spoke live on Al Jazeera TV during the meeting.

Near the end of the meeting, a letter was distributed from president Abbas, asking Haniyeh to form a government that would “respect international resolutions and the agreements signed by the Palestine Liberation Organization.” Abbas had sought to have the word “abide” inserted instead of “respect,” but was rebuffed by Hamas, which had maintained that it would not explicitly recognize the state of Israel in the agreement.

The Future in Question

Even if the deal succeeds in ending the intra-Palestinian violence, questions remain over whether it will be enough to end the international aid boycott that has deprived the Palestinian Authority of hundreds of millions of dollars, rendering the lives of Palestinians further grievous, when 70% of Palestinians are already living under poverty line, and 25% of Palestinian children are malnourished, according to numerous sources and statistics.

In response to Hamas’ commitment to “respect” rather than “abide by” previous agreements, US officials remain ambiguous on whether the freeze on aid money will remain, stating the administration will wait until a February 21 Quartet meeting in Berlin. Tom Casey, State Department spokesman, said: “the US position on Hamas hasn’t changed. It’s an armed terrorist organization and that places restrictions on US activities and US engagement.”

Among Palestinians, hopes are rising again, the two main parties having brokered a calm. Will this be an opportunity for Palestinians to have peaceful lives, to know healthy standards of living, to have enough food to counter the severe levels of malnutrition and starvation? These are question that urgently need outcomes. The involvement of peace-brokers is required in such times. The US, Israel and the EU now remain key “deciders” on the progress of peace. Will what they decide be in the interests of a true peace which respects and compensates Palestinians for their long suffering?
rafah.virtualactivism.net/news/todaymain.htm

i found this at my friend photostream, he’s a real anti-zionist! he’s not even a muslim. these words is by a jew…..its about what happen in israel..the illegal state!

The end of Zionism
Israel must shed its illusions and choose between racist oppression and democracy
by Avraham Burg
September 15, 2003
The Guardian (UK)

The Zionist revolution has always rested on two pillars: a just path and an ethical leadership. Neither of these is operative any longer. The Israeli nation today rests on a scaffolding of corruption, and on foundations of oppression and injustice. As such, the end of the Zionist enterprise is already on our doorstep. There is a real chance that ours will be the last Zionist generation. There may yet be a Jewish state here, but it will be a different sort, strange and ugly.
There is time to change course, but not much. What is needed is a new vision of a just society and the political will to implement it. Diaspora Jews for whom Israel is a central pillar of their identity must pay heed and speak out.

The opposition does not exist, and the coalition, with Ariel Sharon at its head, claims the right to remain silent. In a nation of chatterboxes, everyone has suddenly fallen dumb, because there’s nothing left to say. We live in a thunderously failed reality. Yes, we have revived the Hebrew language, created a marvellous theatre and a strong national currency. Our Jewish minds are as sharp as ever. We are traded on the Nasdaq. But is this why we created a state? The Jewish people did not survive for two millennia in order to pioneer new weaponry, computer security programs or anti-missile missiles. We were supposed to be a light unto the nations. In this we have failed.

It turns out that the 2,000-year struggle for Jewish survival comes down to a state of settlements, run by an amoral clique of corrupt lawbreakers who are deaf both to their citizens and to their enemies. A state lacking justice cannot survive. More and more Israelis are coming to understand this as they ask their children where they expect to live in 25 years. Children who are honest admit, to their parents’ shock, that they do not know. The countdown to the end of Israeli society has begun.

It is very comfortable to be a Zionist in West Bank settlements such as Beit El and Ofra. The biblical landscape is charming. You can gaze through the geraniums and bougainvilleas and not see the occupation. Travelling on the fast highway that skirts barely a half-mile west of the Palestinian roadblocks, it’s hard to comprehend the humiliating experience of the despised Arab who must creep for hours along the pocked, blockaded roads assigned to him. One road for the occupier, one road for the occupied.

This cannot work. Even if the Arabs lower their heads and swallow their shame and anger for ever, it won’t work. A structure built on human callousness will inevitably collapse in on itself. Note this moment well: Zionism’s superstructure is already collapsing like a cheap Jerusalem wedding hall. Only madmen continue dancing on the top floor while the pillars below are collapsing.

We have grown accustomed to ignoring the suffering of the women at the roadblocks. No wonder we don’t hear the cries of the abused woman living next door or the single mother struggling to support her children in dignity. We don’t even bother to count the women murdered by their husbands.

Israel, having ceased to care about the children of the Palestinians, should not be surprised when they come washed in hatred and blow themselves up in the centres of Israeli escapism. They consign themselves to Allah in our places of recreation, because their own lives are torture. They spill their own blood in our restaurants in order to ruin our appetites, because they have children and parents at home who are hungry and humiliated. We could kill a thousand ringleaders a day and nothing will be solved, because the leaders come up from below - from the wells of hatred and anger, from the “infrastructures” of injustice and moral corruption.

If all this were inevitable, divinely ordained and immutable, I would be silent. But things could be different, and so crying out is a moral imperative.

Here is what the prime minister should say to the people: the time for illusions is over. The time for decisions has arrived. We love the entire land of our forefathers and in some other time we would have wanted to live here alone. But that will not happen. The Arabs, too, have dreams and needs.

Between the Jordan and the Mediterranean there is no longer a clear Jewish majority. And so, fellow citizens, it is not possible to keep the whole thing without paying a price. We cannot keep a Palestinian majority under an Israeli boot and at the same time think ourselves the only democracy in the Middle East. There cannot be democracy without equal rights for all who live here, Arab as well as Jew. We cannot keep the territories and preserve a Jewish majority in the world’s only Jewish state - not by means that are humane and moral and Jewish.

Do you want the greater land of Israel? No problem. Abandon democracy. Let’s institute an efficient system of racial separation here, with prison camps and detention villages.

Do you want a Jewish majority? No problem. Either put the Arabs on railway cars, buses, camels and donkeys and expel them en masse - or separate ourselves from them absolutely, without tricks and gimmicks. There is no middle path. We must remove all the settlements - all of them - and draw an internationally recognised border between the Jewish national home and the Palestinian national home. The Jewish law of return will apply only within our national home, and their right of return will apply only within the borders of the Palestinian state.

Do you want democracy? No problem. Either abandon the greater land of Israel, to the last settlement and outpost, or give full citizenship and voting rights to everyone, including Arabs. The result, of course, will be that those who did not want a Palestinian state alongside us will have one in our midst, via the ballot box.

The prime minister should present the choices forthrightly: Jewish racism or democracy. Settlements, or hope for both peoples. False visions of barbed wire and suicide bombers, or a recognised international border between two states and a shared capital in Jerusalem.

Why, then, is the opposition so quiet? Perhaps because some would like to join the government at any price, even the price of participating in the sickness. But while they dither, the forces of good lose hope. Anyone who declines to present a clear-cut position - black or white - is collaborating in the decline. It is not a matter of Labour versus Likud or right versus left, but of right versus wrong, acceptable versus unacceptable. The law-abiding versus the lawbreakers. What’s needed is not a political replacement for the Sharon government but a vision of hope, an alternative to the destruction of Zionism and its values by the deaf, dumb and callous.

Israel’s friends abroad - Jewish and non-Jewish alike, presidents and prime ministers, rabbis and lay people - should choose as well. They must reach out and help Israel to navigate the road map toward our national destiny as a light unto the nations and a society of peace, justice and equality.

© Avraham Burg

copy and pasted from here!











IslamicAwakening


DarulIslam


Stop the Wall of Apartheid! NOW!

kernel.org

Gmail

crimethinc

homokaasu.org

From Gaza

Palestine Solidarity

PalestinKini

TranungKite

Gnome Arts

Kde Look

flickr

EliveCd

edevelop!

a linux guru Blog!

ricecooker!

Richard M. Stallman

IlmuKomputer!

AL-JAZEERA

RADIO ISLAM!

Astronomy Picture of the Day



Firefox Flicks!














Pages

Blogroll

way out












www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from empTV. Make your own badge here.


OpenSolaris 1 Year Anniversary








What's New on EI?

This webpage uses Javascript to display some content.

Please enable Javascript in your browser and reload this page.
















OWN THE INTERNET! click here